UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Purwanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purwanto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2013

Puisi Aku Yang Menyimpang Dari Zaman | Purwanto

Aku Yang Menyimpang Dari Zaman
Purwanto

Karena aku yang terlalu lugu
Terasa sesak nafasku
Manakala ku jelajahi jejaring dunia maya
Ahhh... sedemikian hebatkah kebebasan ini?

Jutaan wanita yang suci tak lagi peduli kesuciannya
Jutaan lelaki girang menyambutnya
Obrolan tak lagi dibatasi norma
Ahhh...sedemikian lugukah aku?

Semula hanya kata-kata yang bersahutan
Lalu jadi bujuk rayuan
Tak lama dua jiwa yang buta bertautan
Ahhh...kenapa tak mengindahkan tuntunan

Ribuan ibu menangis karena anaknya hilang
Ribuan suami menangis karena istrinya hilang akal
Ribuan orang menagis karena hartanya melayang
Ahhh... betapa kemalangan menimpa kita

Mungkinkah aku air yang menyimpang?
Tak bisa mengalir bersama arus yang menerjang
Arus yang keruh menutup qalbu
Ahhh...Kenapa tak ada embun pembasuh qalbu?

Wahai kasihku, kau yang selama ini menerangiku
keluarlah dari negeri yang terombang-ambing ini
Mari menyebrang ke negeri yang terang
Ahhh... Jika tidak, aku akan sendiri, merana dan mati muda

Kucoba membuka gerbang negeri yang terang
Ku ajak semua menyebrang
Tapi aku tetap sendiri, tak ada yang memandang
Ahhh...Mungkin karena aku yang menyimpang dari zaman

Cirebon, 26 Maret 2013


Minggu, 24 Maret 2013

Puisi Ratune "Negeri Yang Seharusnya Berjaya" | Purwanto

Ratune
Purwanto

Kata Orang:
Negeri ini adalah negeri 1001 budaya
Negeri 1001 bahasa,
Negeri 1001 sastra,
Negeri 1001 tari,
Negeri 1001 candi,
Negeri 1001 kuliner,
Negeri 1001 hayati,
Negeri 1001 satwa,
Negeri 1001 mineral,
Negeri 1001 sumber energi.

" Negeri yang seharusnya rakyatnya tidak sengsara"
" Negeri yang seharusnya tidak dirasuki jiwa yang serakah"

Apakah salah jika beratus tahun yang lalu
Dua Raja yang pujangga meramal masa
Akan datang mala petaka
Atau kita yang tak tanggap akan pesannya.

"Ratune nyembah kawula" adalah kalimat yang teramat sempurna.
Akankah kita mengalaminya????

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang tidak membiarkan kawulanya sengsara.
Ratu yang puasa saat kawulanya lapar.
Ratu yang telanjang saat kawulanya tak punya sandang.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang bertani menanami negeri.
Ratu yang merajut menenun sandang.
Ratu yang berdagang saat kawulanya berkarya.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang jadi guru untuk kawulanya yang dungu.
Ratu yang membaca untuk kawulanya yang buta.
Ratu yang menulis untuk kawulanya yang tuli,

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang menangis saat kawulanya sakit.
Ratu yang terjaga saat wabah meraja.
Ratu yang berjaga saat datang bencana.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang menempa senjata.
Ratu yang didepan saat berperang.
Ratu yang murka jika kawulanya dihina.

Ratu tanpa pengawal.
Ratu yang dirampas dari kerabatnya.
Ratu yang jiwanya dikorbankan.

"Ratune nyembah kawula"
Ratu yang mengerti budi pekerti.
Ratu yang mengerti potensi negeri.
Ratu yang mengerti 1001 masalah negeri.
Akankah kita menemukannya????

Saat ratu mulai bertahta.
Bukan pesta yang pertama.
Tapi menanam yang utama.
Sebab kawula menahan lapar.

Sang ratu membuka lahan.
Sang ratu mengatur banyu.
Sang ratu membuat bajak.
Sang ratu meramu rabuk.

Jika padi berumur cukup.
Kawula bersuka cita.
Sang ratu membangun lumbung.
Agar lebih dapat ditabung.

Jika cukup padi di lumbung.
Sang ratu jadi pandita.
Menggembleng para pemuda.
Luhur budi, tinggi pekerti.

Waktunya menyusun hukum.
Karena dulu …
saat raja-raja senang berpesta.
Kawula memakai hukum rimba.

Saat raja-raja hilang kharisma.
Kawula membabi-buta.
Lupa aturan hilang tatanan.
Pandita dikekang, guru ditentang.

Saatnya sang ratu mengangkat gada.
Mendera raja-raja.
Agar Raja nyembah kawula.
Hingga kawula lepas sengsara.

Cirebon, 5 Maret 2013