Mengenangmu
Eka Fendri Putra
aku pernah mengenalnya
suatu masa yang terlipat waktu
kesedihan masih mendera,
ada cinta yang
terpenggal
ada cerita yang putus
aku selalu padamu
entah berapa lama,
kutepis rasa ini
tapi hanya menghancurkan jiwa
aku masih mengharapmu
lewat dunia dan mimpi
yang terbangun kokoh
entah berapa lama
kutekan rasa ini
tapi hanya menghimpit sepiku
aku masih mengharapmu
lewat dunia dan mimpi
yang terbangun kokoh
entah berapa lama kutekan rasa ini
tapi hanya menhimpit sepiku
setelah bertahun
kini kau begitu gemilang
entah untuk apa
aku masih mengenangmu
adakah itu tatapmu
masih untukku
Maret 2010
Tampilkan postingan dengan label Eka Fendri Putra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eka Fendri Putra. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 September 2010
Puisi Puisi Sedih | Puisi Mengenangmu
Salah Sangka | Eka Fendri Putra
Salah Sangka
Eka Fendri Putra
jangan salahkan aku
jika hingga kini
cuma kata hanya kata
ternyata kaya juga
hempaskan aku
ke dunia lain
ku terlempar dalam bayang bayang
menembus awan
seakan mengatasi langit
berkawan dengan angin
dan gelombang
di atas gunung aku bisa melihat
tak ada yang paling miskin
tak ada yang paling kaya
tak ada yang paling alim
tak ada yang paling durhaka
ternyata hanya salah sangka
Desember 2009
Surat Tua Puisi Eka Fendri Putra
Surat Tua
Eka Fendri Putra
Kembalilah Iwan,
pohon cengkeh berbuah emas
Di lereng bukit sebelah barat
Wangi kulit manis dan pala lebat buahnya
Pulanglah, perawan muda ceria bermekaran
Akan ada tujuh belas perhelatan
lepas lebaran
Bibah dapat suami ketigabelas,
orang rantau tentu
Si Badut pun akhirnya dapat jodoh,
si Kiah Janda si Jibun yang cerai mati
di Takengon Surat itu terlipat
dalam sebuah buku lama
Bertahun satu sembilan lima lima,
bulan dua, tanggal tiga
Dari Sulaiman, temanku,
yang mati waktu perang saudara
Tahun satu sembilan lima sembilan
Waktu subuh mayatnya ditemukan
Tubuhnya memagut batu,
terkulai dalam air di tepi danau
Degan satu setengah kaki.
Setengahnya lagi, hilang
"Hentakan alu di lesung
tingkah bertingkah
Ditumbukkan tiga perawan muda Iwan,
pulanglah, Pulanglah Iwan" Kinantan putih,
merah ranggahnyaIa berkokok sambil terbang
Di sepanjang lorong kampung.
Oh abang Leman
Ketika ia tertembak,
menjelang subuh ituPerawan desa kami merasa
jadi janda karena duka
Gema perbukitan, gaung puput tanduk
Di kampung pedalaman, gelak cekikikan
Semua sudah lama, terasa jauh, kian sayup
Dalam kenangan, bayangan riang jadi lara
Aku tak bisa pulang,
perang saudara belum usai
Hingga kini,
nama Sulaiman abadi dalam cinta
Tersimpan dalam pantun,
mengalun dalam salung
Umur sembilan belas ia mati,
di tepi danau yang sepi
Ketika perang saudara,
50 tahun yang lalu
Maret, 2009
Karya Eka Fendri Putra | Dinding
Dinding
Eka Fendri Putra
siapa bikin dinding begini? bagaimana meruntuhkannya?
dinding bertiang berlangit kata batasnya tak bertanda
meski di luar bagitu dekatdi dalam jauh dan siang
di sana tersimpan riwayat ikwal segala nama
tak seorang pun tahu bagaimana namanya
tertera di dinding itu
Februari, 2009
Minggu, 12 September 2010
Seputar Kata | Eka Fendri Putra
Seputar Kata
Eka Fendri Putra
Berapa usia kata-kata?
Pepatah dan petitih?
Tua betapa pun tak renta, tak mengenal ajal
Jajaran rumah sepanjang lorong,
sawah di lereng, ladang di bukit dan manggu
pemakaman bertanda batu
Dan bunga puding hitam,
tanah, kerikil di atasnya
Selalu ada yang bisa lain,
padanglah puputan anginJawaban,
sepertinya, ada di sana
Siapa nenek moyangnya, asal kaumnya?
Di mana tiang rumahnya pertama ditancapkan?
Dari rimba mana pohon pilihannya?
Di mana tunggul penebangannya?
Di mana sawah ladangnya,
sosok jeraminya?
Di mana pandam pekuburan kaumnya?
Di sini kata bertahta tanpa aksara
Bermahkota tanpa raja
Begitulah konon,
lantas silsilah pun bermula
Dalam rentang waktu,
diucapkan dan dihafalkan
Tak ada kata yang dapat diganti,
bagai pahatan
Siapa pun lahir,
Tuhan menempatkannya, dengan cahaya
Di bumi. Kaum dan negeri
menimangnya dalam tatanan
Kata, memberi mereka mahkota,
menandai jalan ke sorga
Januari, 2009
Sumber : www.suarakarya-online.com